Jumaat, 30 September 2011

Malu



Kadang-kadang termenung sendiri di luar tingkap. Memandang ciptaan ALLAH yang maha agung. Musim berganti musim. Daun luruh dan tumbuh. Semuanya sesuai dengan aturannya.

Bila memandang diri terasa malu dan hina. Selepas mandi di lautan taubat terjun semula ke lumpur maksiat. Berulang kali berdoa memohon ampun dosa yang sama.

Sampai bila akan begini.

Nikmat tak pernah terhenti meski hati berulang kali mati. Perasaan malu makin tebal setiap hari.

Mencemar hati setiap hari. Membersih dan mengotorinya kembali.

Ya ALLAH ampunilah diri ini.

Jangan engkau tarik nyawa ini saat ianya sakit atau mati. Jangan engkau tarik hidayah yang telah diberi.

Terasa bahagia saat indah melihat salju turun buat kali pertama. Harap indah juga saat pengakhiran nanti disana.

5 ulasan:

Biehah berkata...

peringatan utk diri sya jga yang selalu alpa dan leka...may all of us hv Allah's endless blessing today
and forever insyaAllah..

Sambal Belacan Sedap berkata...

malu itu perlu.. cume perlu pada tempatnya..

"Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wajalla dengan sebenar-benarnya malu. Barangsiapa malu kepada Allah Azza wajalla dengan sebenar-benarnya malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sesungguhnya ia telah malu kepada Allah Azzawajalla dengan sebenar-benarnya malu." .

Saat seseorang hamba melakukan maksiat, pada ketika itu Allah telah menarik sifat malu pada dirinya..

zero.1 percent of me berkata...

subhanallah~

J. Hass berkata...

maluuuu lllaaaaa

khaleeftunggal berkata...

simple but ni..terkena pada batang hidung sendiri..